AKHIR DARI PERJALANAN




Aku mengendarai mobilku sendirian dengan kecepatan 20 km/jam. Di jalanan sepi, panjang dan beralas timah kering dan keras. Aku ditemani lampu-lampu penerang jalan yang berwarna kuning. Sinar bulan pun ikut menemani perjalan panjangku yang tanpa arah ini sendirian.
Kepalaku kosong, aku tidak bisa memikirkan apa-apa. Hanya sebuah kata yang sedari tadi muncul dalam benakku. Cinta. Sudah lama kata itu ada di dalam kepalaku. Ketika aku mencoba memahami cinta, aku malah jatuh kedalam lubang gelap yang membutakan aku tentang kehidupan.
Aku mencoba membalas cinta seseorang. Seseorang yang memberikanku cahaya mentari, namun aku sudah terlanjur jatuh di tebing kegelapan. Seseorang yang memberikanku nafas yang sejuk, namun aku sudah tenggelam di dalam lautan dosa. Seseorang yang mencintaiku dengan segenap jiwa raganya, namun aku hanya baru berusaha untuk mencintainya. Tapi aku tidak bisa. Aku dikutuk. Hidupku terpisah darinya yang suci. Hidupku yang sudah terlanjur basah oleh lumpur, kini membuatku tenggelam ke dalam dasar bumi yang panas, jauh dari mentari.
Bulan berbentuk bulat sempurna. Aku hentikan mobilku di pertengahan jalan. Aku turun dan melihat bentuk sempurna sang dewi malam. Indah sekali. Inilah duniaku, walaupun dalam kegelapan aku masih disinari cahaya bulan yang lembut.

Dari kejauhan ada siluet seorang laki-laki bertubuh tinggi memakai tudung hitam dan jaket tebal mendatangiku dan dia berdiri di sampingku dan mengatakan “Tenang, aku bukan penjahat. Aku diperintahkan untuk menjemputmu” lalu ia langsung masuk ke mobilku.
Sudahlah aku tak perduli. Aku hanya ingin menikmati sinar bulan yang sangat indah.

Aku selalu kedinginan, tidak ada sinar mentari yang menghangatkanku. Lagi-lagi aku memikirkannya lagi. Tentang cinta. Aku membuka sekaleng kopi panas yang kini menjadi dingin di tanganku dan aku menenggaknya cepat. Aku haus, haus akan kehangatan cinta.

Aku menghela nafasku berat. Aku lelah. Aku sudah menjalani perjalanan hidupku di jalan ini dengan segala keputus-asaan dan kecemasan.

Disisi lain tempatku berhenti aku lihat sebuah lampu neon dari sebuah rumah. Aku akan kesana, ku harap akan dapat merasakan hangatnya kayu bakar. Kulihat laki-laki itu tertidur, baiklah aku saja yang akan masuk kedalam. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Emm wangi makanan. Hangat. Ketika aku semakin memasuki rumah itu aku lihat seseorang namun di pundaknya ada dua buah sayap yang sangat indah namun terlihat patah dan ada darah di sela-selanya.

Dia berbalik ke arahku, dan aku membelakkan kedua mataku. Tubuhku tak bisa bergerak, darahku terasa membeku. Wajah itu, senyuman itu. Aku mengenalnya. Dia tersenyum kepadaku dan mengatakan “Anakku, akhirnya kau datang juga” mulutku tak bisa mengatakan apa-apa. Aku membeku di tempatku. Dia berjalan ke arahku, dengan kaki indahnya yang sedikit di seret. Kenapa, kenapa kamu berjalan seperti itu bu? Sayapmu juga patah bu.

Tak terasa bulir air di mataku menetes sedikit demi sedikit. Hatiku perih. Melihat malaikat terindah dalam hidupku, yang telah merawatku dan menjagaku, lemah dan tak berdaya seperti ini. “Jangan mendekat! Kau terluka! Jangan bergerak! Tetaplah seperti itu!” gertakku pelan dan aku sambil menutup mulutku dan menghapus air mataku, aku berlari secepat mungkin ke mobilku untuk mengambil peralatan medis yang selalu kubawa.

Ketika aku berlari kembali kerumah, aku lihat dia sudah jatuh. Dia sedikit meringis namun tetap tersenyum. Oh, tidak. Jangan berwajah seperti itu. Kasihanilah malaikatmu ini. Dia terluka. Biarkan aku menyembuhkan sayapnya. Agar ia dapat pulang ke asalnya.

Aku meyuruhnya duduk di kursi kayu. Aku tidak bisa menyentuhnya, aku terlalu bernoda. Dia melihatku dengan penuh harap. “Anakku, berikan bunda obat dan cintamu, nak” ucapnya. Suaranya membuat ku ingin bertahan hidup dan mendengar suaranya adalah sebuah ketenangan.

Tapi aku tidak bergerak, dia terlalu mulia untukku yang terlalu berdosa. Aku pergi meninggalkannya, namun kini ia ada disini, di depanku dengan sayap dan kaki yang terluka. Dia berkata dengan lirih “Mendekatlah, biar bunda memelukmu” dia membuka lengannya lebar-lebar. Apa benar pelukan ini khusus untukku? Untukku yang sudah meninggalkannya, membuatnya menangis dan membuatnya terluka seperti ini?

Aku takut, tapi karena ini permintaanmu aku akan menurutimu sebagai tebusan dosaku yang pertama kepadamu,bunda, malaikatku yang penuh cinta dan kesabaran. Aku juga membuka lenganku, berlari ke arahnya dan menumpahkan buliran air mata yang sedari tadi kutahan.

Ini mimpi? Apa ini benar nyata? Aku memeluknya dan dia mengusap kepalaku lembut. Ya Tuhan, aku benar-benar bahagia. Aku yang kau kutuk menjadi manusia rendahan dengan segala penyakit yang kau berikan, kini kau memberikanku obat penawar yang sangat mahal.

Aku terus memejamkan mata dan terus memanggil mama dan tak lupa aku bersyukur dengan menyebut nama-Mu. Ketika aku membuka mata, sinar lampu membuatku silau. Tanganku yang kanan di genggam malaikat yang Tuhan berikan dan tangan kiriku di tusuk oleh selang infus.

Dan aku memanggil malaikatku “Mama...” aku bisa memanggilnya sekarang. Mama dengan mata indahnya yang lelah, terkejut mendengar suaraku dan mama langsung mencium tanganku sambil mengucap syukur “Alhamdulillah, terimakasih ya Allah, engkau telah menyadarkan Jihan”, mama tidak berhenti mengucap syukur,lalu ayah, kakak, nenek dan kakekku datang karena mendengar mama terus mengucap syukur. Kulihat dari tempatku berbaring, mama, ayah, kakak serta kakek dan nenekku tersenyum, mereka juga ikut mengucap syukur.

Ketika dokter memeriksaku, dia mengatakan aku akan sembuh, namun aku tidak merasa demikian. Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal kepada para malaikat mulia yang Tuhan berikan kepadaku sebagai penawar penyakitku ini.
Mama tetap menggenggam tanganku, aku mengeluh “Mama, tanganku sakit” mama segera melepasnya namun tak rela, dan kini aku berganti menggenggamnya dan berbicara dengan suaraku yang serak dan lirih “Ma, maafin Jihan ya. Jihan udah capek. Jihan mau istirahat, mama berobat ya, biar mama nggak capek kayak Jihan. Terus juga Jihan udah dijemput, Jihan nggak enak bikin ‘Paman’ nungguin Jihan lama-lama. Jihan mau pergi dulu ya ma” dan ketika aku mengatakannya mama panik dan berteriak untuk dipanggilkan dokter.

Aku memejamkan mataku lagi, dan ketika aku membuka mata, malaikat di depanku tersenyum. Aku berdiri dan mohon ijin pergi. Aku keluar dan sinar bulan berganti dengan sinar fajar mentari indah berwarna oranye. Aku segera menuju mobilku yang terparkir disana ada Paman yang menjemputku. Aku menghampirinya dengan senyuman dan ia membalas senyumku. “Bagaimana? Sudah pamitan? Sudah waktunya, kita tidak boleh ketinggalan. Kedatanganmu ditunggu yang lain, Jihan. Disana kau akan beristirahat dengan nyaman” aku tersenyum lebar “Pastikan tempatnya sangat indah” dia menganggukkan kepalanya

Aku ingin segera pergi dan beristirahat disana. Dan kami bergerak ke tempat ‘itu’ dengan menyanyikan lagu ceria dan tertawa bersama. Aku menengok lagi kebelakang dan melihat rumah kayu itu, disana malaikatku melambaikan tangannya sambil tersenyum mengisyaratkan “Baik-baiklah disana. Bunda merelakanmu” aku membalas lambaiannya.

Bunda, cintamu tak punya pilihan. Cintamu tak perlu permohonan. Cintamu luas, kasih sayangmu ikhlas, kesabaranmu tak berbatas. Kau adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia. Maafkan aku yang mencintaimu karena pilihan. Aku hanyalah manusia biasa yang hanya bisa memilih untuk mencintaimu. I Love You Bunda.

#NB
fOR My forever Love : My Mother (Mamiku, Bundaku, Mamaku, Emakku)
Yang bawelnya paling bawel, dan yang paling aku butuhin pelukannya kalau lagi sedih, gundah dan lelah :D

Sebenernya ini adalah project buat lomba, karena dikacangin yowes aku post di blog sendiri hehe

Komentar